11 September 2009

CERPEN : SYARAT NADINE


Setelah memarkirkan motor di halaman rumah Nadine yang tak terlalu luas, Herman langsung mengucapkan salam dan masuk ke dalam rumah. Sudah biasa, ia tak merasa canggung lagi berada di rumah itu.

"Tumben sore hari sudah datang, Man?"

"Iya Bang mau ketemu Nadine ada perlu."

"Sudah selesai mengajarnya?"

"Sudah, dari sekolah tadi langsung ke sini."

"Sebentar ya, " Renald lalu masuk ke dalam meninggalkan Herman seorang diri di ruang tamu

"Nadine, Herman sudah datang, jangan lupa ya," ucap Renald setengah berbisik yang diiringi senyum penuh arti

Nadine yang tengah membaca buku sambil bertengkurap di atas tempat tidur menoleh dan tampak tak bergairah. Dengan malas ia bangkit menuju meja rias.

Ini adalah waktunya, pikir Nadine. Ia harus menggunakan siasat ini demi menyenangkan kakaknya.


******************

Seharusnya Nadine sudah bisa menduga ini dari dulu. Pandangan Renald kepada beberapa pria yang dilihatnya di jalan, atau ucapannya kala sesekali pergi bersamanya ke mal, ternyata merupakan bentuk hasrat kakak satu - satunya itu kepada sesama jenis.

Semula disangka Nadine Jika Renald berkata : "Nadine lihat ada cowok ganteng," atau; "Nadine orang ini gagah juga ya ?" itu semua ditujukan buat dirinya. Bahwa itu bentuk perhatian seorang kakak pada adiknya agar mencari suami serupa itu. Tapi ternyata dugaannya salah.

Kakaknya ini semula -selagi masih dalam kandungan - memang diharapkan berjenis kelamin perempuan. Dalam pendangan kedua orang tuanya, jika mereka memiliki anak pertama perempuan tentu akan sangat membantu. Biasanya anak perempuan kan tak senakal anak laki-laki. Dan nanti apabila punya adik pun bisa diandalkan untuk menjaga dengan telaten.

Walau akhirnya keinginan itu tak terkabul. Namun orang tuanya tetap mendapat anak pertama yang sayang pada adiknya. Karena sejak mereka tiada Renaldlah yang mengurus dan mencukupi kebutuhan Nadine.

Bila dicermati oleh Nadine, sepertinya tak ada yang salah dari fisik atau tingkah laku Renald selama ini. Memang tubuh kakaknya itu tak terlalu besar, dan bibirnya pun tipis seperti miliknya. Tapi pembawaan Renald tetaplah gagah selayaknya lelaki normal.

Maka Nadine begitu terkejut ketika beberapa minggu yang lalu, Renald mengatakan dengan hati-hati dan penuh rasa malu bahwa ia menyukai Herman - teman seprofesi nadine - yang sering mengantar perempuan berlesung pipit itu sepulang mengajar.

Bahkan kakaknya itu ternyata begitu terobsesi untuk dapat mencium bibir Herman, Walau hanya sekali.

"Mungkin ini satu-satunya keinginan terbesar dalam hidup Abang. Dan Abang ingin sekali bisa mendapatkannya sebelum Abang mati," kata kakaknya dengan memelas.

Nadine terenyuh. Hatinya merasa kasihan terhadap saudara satu-satunya itu. Tapi bagaimana caranya mewujudkan keinginan yang kelewat nyeleneh ini. Apa ia harus bertanya : Herman maukah kau berciuman dengan abangku?

Kalau saja kakaknya meminta hal yang lain dengan segera dan senang hati langsung ia berikan. Tapi ini.... mencium bibir teman sejawatnya yang sama -sama pria ! Nadine benar-benar bingung.


****************




Herman memperhatikan dengan seksama air muka Nadine yang telah duduk di hadapannya. Hatinya jadi kecut kalau-kalau Nadine tak menerima cintanya. Walaupun dia sudah mempersiapkan diri untuk menerima apapun jawaban yang akan diberikan gadis tinggi semampai ini. Tapi tetap saja hatinya gundah.

Merasa diperhatikan Nadine manarik nafas dan tersenyum.

"Bagaimana?" tanya herman lembut

Siang tadi di ruang guru yang sepi Herman telah menyatakan cintanya. Dan sore ini Nadine memang berjanji akan memberikan jawaban.

Wajah Nadine menjadi murung kembali. Biar ia mati-matian mengendalikan ekspresi wajahnya, tetap saja Herman bisa menangkap kegelisahan.

"Apa saya datang di saat yang tak tepat?" Herman kembali bertanya.

"O, tidak, tidak," Nadine cepat memotong. Dia memang harus melakukannya sekarang atau ia bisa gila karna rencana ini. "Memang sebaiknya kamu datang sekarang. Sepertinya kita memang harus terbuka terhadap perasaan kita masing - masing," lanjutnya.

Herman masih gelisah. Perkataan Nadine tak mengindikasikan apapun tentang nasib cintanya. Malah hatinya semakin kecut. Jangan-jangan ini adalah pembukaan sebelum sebuah kalimat penolakan.

"Lalu?" Laki-laki itu semakin penasaran.
"Lalu...." Nadine agak ragu untuk menjawab. Dia berusaha mengumpulkan semua keberaniannya. Dia harus melakukan ini demi seorang kakak yang telah memberi seluruh perhatian buat dirinya. Nadine ingat bagaimana kakaknya yang cuma buruh pabrik, banting tulang untuk biaya kuliahnya dan untuk kebutuhan mereka sehari -hari.

"Begini Herman," lanjut Nadine. "Sebelum saya memutuskan, saya...saya ingin kita berciuman terlebih dahulu," ucap Nadine akhirnya dengan perasaan berdebar.

Herman terperangah. Dia benar-benar terkejut. Dia bingung. Apa dirinya tak salah dengar. Laki--laki itu takjub Nadine bicara seterus terang dan seberani itu. Dan syaratnya itu walau terdengar agak seronok tapi begitu menggoda.

"Kenapa mesti begitu ?" tanya Herman penasaran.

Nadine terdiam sejenak.

"Saya membaca sebuah penelitian di Jepang, bahwa kelanggengan sebuah hubungan bisa dirasakan saaat berciuman pertama kali. Dan saya ingin mengetahuinya sedini mungkin," ujar Nadine membual. dia sebenarnya agak ragu menyebut alasan gila ini. Apalagi Herman seorang guru biologi. Apakah mungkin laki-laki ini dibodohi?

Herman semakin bingung. mengapa untuk menerima jawaban saja syaratnya begitu berbelit-belit. Apalagi Nadine yang dia kenal selama ini tak pernah seberani ini.

Tapi Herman sudah terlanjur cinta pada guru bahasa Indonesia ini. Apalagi syaratnya ini tak berat-berat amat. Takkan ada ruginya apabila ia menerima.

"Bagaimana ?" kini Nadine yang balik bertanya.

Herman menatap mata Nadine cukup lama.

"Di bibir?" tanyanya bodoh.

Nadine mengangguk mantap. Herman menelan ludah.

"Namun kita harus menutup mata sebelum melakukan, saat malakukan dan setelahnya. Sesudah saya memberi tanda baru kita boleh membuka mata kita masing-masing," jelas Nadine.

"kok ribet sekali!" protes Herman. "Dan kenapa kamu yang mesti memberi tanda?" tanyanya.

Nadine tertawa kecil

"Saya kan cuma mengikuti metode penelitian di jepang," kilah Nadine yang mulai akrab dengan kebohongannya. "Dan menurut penelitian tersebut memang harus perempuan yang memberi tanda."

Herman geleng-geleng kepala.

"Bagaimana ? Kalau setuju kamu sekarang bisa menutup mata dan posisi saya tepat di depan kamu," desak nadine.

"Baiklah," Herman lalu menutup matanya.

Renald yang sejak semula menyimak pembicaraan dari balik tembok antara ruang tengah dan dapur segera keluar dan menggantikan posisi Nadine.

Begitu berada di posisi yang semula di tempati adiknya, Renald tak kuasa menahan nafsu. Bibirnya dengan segera menghampiri bibir Herman dan melumatnya dengan rakus. Hasrat yang selama ini ia tutupi dari semua orang - termasuk adiknya - meledak seketika.

Nadine yang cuma bergeser sedikit dari tempat semula menyaksikan dengan perasaan haru bercampur risih. Tapi mungkin inilah caranya membalas semua kebaikan yang telah di beri kakaknya.

Dan di dalam hati nadine cuma berharap : semoga setelah semua keinginan Renald terpenuhi, kakaknya itu bisa mendapat jiwa yang selaras dengan raganya.

Nadine bersiap-siap kembali ke posisi semula.

M Dadan Suryana