29 September 2009

CERPEN : SENSASI DAN PERTOLONGAN TUHAN

Inilah saat yang kutunggu-tunggu. Jarak antara wajahku dan wajah Rini tak sampai satu jengkal. Wangi nafasnya yang harum masuk ke rongga hidungku dan merayapi syaraf-syaraf nafsuku. Bola matanya yang ke biru-biruan, ah, sekarang bukan saatnya melihat bola mata itu. Tapi lihatlah bibirnya yang penuh dan merah menantang itu. Oh, akan kulumat habis sesaat lagi.

Wajah kami semakin dekat-semakin dekat. Jantungku berdetak semakin kencang. Tapi oh cuih bau apa ini ? Harum yang tadi menggrayangi hidungku tiba-tiba berubah menjadi bau telur busuk. Kampret ! Dari mana datangnya bau yang mengganggu ini?

Tiba-tiba, " Sebentar ya Gus," Rini berkata sambil bergegas ke belakang dengan berlari kecil. sesaat kemudian terdengar bunyi pintu kamar mandi yang di buka dan ditutup kembali. Dan hadirlah suara yang menghentakkanku. Brot brot . . . .broot . . . .

Hilanglah seketika nafsu yang tadi merangkul jiwaku. Segera kuambil handphone dan menulis pesan ke nomornya agar dibaca setelah dia keluar dari kamar mandi.

"Rini, rupa-rupanya Tuhan telah menyelamatkan kita dari perbuatan bejat di hari raya ini. Aku akan datang lagi setelah orangtuamu kembali dari kampung, sehingga setan-setan tak lagi leluasa menggoda kita."

Segera aku melangkah pulang.

M Dadan Suryana