Entah apa ini merupakan hal yang memalukan atau sesuatu yang patut dibanggakan. Di usiaku yang telah lebih dari dua puluh sembilan tahun ini, belum pernah sekalipun aku merasakan yang namanya berciuman. Sungguh! Sejak dari kecil, pada masa remaja - masa yang kata orang saat ingin mecoba segala sesuatu, hingga kini, satu hari menjelang hari pernikahanku. Belum pernah ku merasakannya.
Oleh karna itu rasa penasaranku membuncah kini. Ingin aku merasakannya sebelum kami menikah besok. Walau mungkin hal ini dosa karna dilakukan sebalum menikah. Tapi kami pasti membayarnya dengan berciuman ratusan bahkan ribuan kali setelah menikah besok. Bukankah bermesraan bagi suami - istri merupakan sesuatu yang berpahala. Jadi dosaku hari ini pasti terlunasi oleh ribuan ciuman setelah kami menikah besok.
Maka aku dan Rani telah sapakat akan melakukannya di kamar belakang. Mengambil waktu barang semenit - dua menit, ditengah kesibukan orang-orang yang mempersiapkan pernikahan kami di ruang depan.
Nah itu dia Rani sudah muncul. Dia tersenyum agak malu-malu.
"Jadi ?" dia bertanya. "Jangan sampai kebablasan ya," timpalnnya lagi.
"Pasti !" aku menjawab mantap. "Di luar kan banyak orang."
Pintu ku dorong sedikit walau tidak tertutup rapat. Paling tidak akan menutupi kegiatan kami.
Walau agak kikuk, akhirnya bibirku berhasil mendarat di bibir Rani. Jantungku berdegup kencang. Seperti ada aliran kenikmatan yang menjalari seluruh sendiku. Kalau orang berkata dunia seakan berhenti saat berciuman pertama kali, tapi bagiku berbeda. Dunia dan seisinya seakan hilang saat ku melumat bibirnya. Yang ada cuma kami berdua di alam semesta ini.
Mungkin bagi mereka-mereka yang sudah sering berciuman tak akan merasakan sensasi seperti ini lagi. Mereka bisa berciuman Sambil nyebokin anak, saat suami mesti buru-buru ke kantor. Atau bahkan saat berciuman salah satunya ada yang kentut. Sudah hilang esensinya, yang ada cuma ritual.
Tapi bagi kami berdua yang sama-sama never been kissed ( kalau bahasa inggrisnya salah harap dimaklumi). Ini semua sungguh khusu dan penuh makna, bahkan pada saat terakhir bagian bibirku terpisah dari bibir Rani. Sungguh tak bisa dilukiskan dengan kata-kata.
Rani tersenyum padaku lalu tertawa kecil. "Kakak tidak apa-apa ?" katanya kemudian.
"Kenapa ?" aku balik bertanya dengan agak heran.
"Aku tadi kentut !" jawabnya cepat.
"Hah ?" aku garuk-garuk kepala. Apa jangan-jangan dia sudah pernah melakukan been-been yang lain di luar never been kissed ? Entahlah yang pasti besok kami kan menikah.
Catatan : Pernah diposting saat awal ngeblog.
M Dadan Suryana