09 Oktober 2009

CERPEN : TERORIS

Batang-batang rokok di tangannya begitu cepat menghilang terhisap perasaan berdebar. Telah lebih dari dua jam Andri yang ditunggu  belum menampakkan batang hidungnya. Kalau dalam satu jam ke depan Andri tidak muncul ia akan pulang. Persetan dengan perempuan! Persetan dengan kawin! Persetan dengan anak-anak yang lucu yang memang dia sukai. Rusdy menghembuskan asap rokoknya dengan kuat.

Langit malam yang mendung tanpa bintang seolah melukiskan perasaannya yang sedih melihat pasangan-pasangan yang duduk mesra di bangku-bangku taman di pendapa mall di sekelilingnya.

Rusdy jadi menyesal mengapa kemarin menyetujui acara perkenalan ini. Kadang memang dia merasa butuh akan sosok perempuan di sampingnya. Tapi nyatanya hampir selalu ada perasaan tidak nyaman bila di dekatnya ada seorang perempuan. Hidungnya yang besar dengan wajah yang tirus-tipis, yang sewaktu kecil sering jadi bahan ledekan teman-temannya, membuatnya kini selalu tidak percaya diri bila berhadapan dengan lawan jenis.

Walau kini hidung yang besar dengan wajah yang tirus itu telah dicoba untuk direparasi dengan jalan memelihara kumis yang melintang plus jenggot dan cambang di kiri-kanan pipinya - dengan harapan wajahnya yang tirus itu akan nampak lebih lebar guna mengimbangi hidungnya yang terlalu menonjol- namun tetap saja rasa minder selalu menyergap dirinya bila berhadapan dengan lawan jenis.

Tapi malam ini tekadnya sudah bulat. Tak boleh rasa minder itu terus mengungkungnya. Kapan lagi dia akan punya istri dan anak yang lucu seperti yang dimiliki Andry. Apalagi  usianya kini telah lebih dari tiga puluh lima tahun. Dan jika memang perempuan itu benar secantik seperti yang digambarkan Andry, dia harus percaya diri. Harus!

Rusdy bangkit dari duduknya dan kembali melongok ke dalam mall melalui pintu kaca lebar. Dia berharap mendapati Andri berjalan ke arahnya bersama perempuan yang akan dikenalkan padanya. Namun harapannya musnah, karna di matanya cuma tampak wajah-wajah asing yang berjalan beriringan menuju pintu keluar. Dengan lemas Rusdy kembali duduk dan menghisap rokoknya, sementara tangan kirinya terus mengelus-elus kumis agar melintang dengan sempurna.


**********

Di kejauhan seorang petugas keamanan mall memperhatikan gerak-gerik Rusdy. Peteugas itu sedikit tercuri perhatiannya karna sudah lebih dari satu jam dilihatnya sosok lelaki itu berada di pendapa mall. Kegiatannya hanya merokok dan sesekali berdiri melihat ke dalam mall. JIka memang lelaki itu menunggu seseorang dan sudah selama itu, seharusnya dia bisa menghubungi bagian informasi, pikir si petugas. Terlebih dilihatnya Rusdy nampak berbeda dengan kebanyakan pengunjung yang duduk di sana, yang rata-rata berpasangan.


**********

Rusdy yang tidak menyadari dirinya diperhatikan tengah tersenyum. Dia teringat cerita yang melatar belakangi acara perkenalan ini.

Andri temannya samasa masih bekerja di restoran pernah bercerita, bahwa di tempatnya  bekerja kini ada seorang kasir baru. Dan dia cukup akrab dengan kasir tersebut. Perempuan itu  sering berkisah bahwa kini hubungannya dengan sang kekasih tengah bermasalah. Keengganan sang kekasih berkomitman lebih jauh untuk menikahinya menjadi pangkal persoalan. Alasan yang utama adalah pekerjaan yang belum menentu. 

Untuk itu Andri berniat menjodohkan kasir baru itu dengan Rusdy. Status Rusdy kini sebagai pemilik bengkel motor tentu menjadi nilai tambah tersendiri. Walau harus diakui Andri wajah sahabatnya itu  begitu memprihatinkan.

"Begitu memprihatinkan", Rusdy geleng-geleng kepala namun mulutnya melengkungkan senyuman jika ingat Andri -sahabatnya itu- biasa meledek. "Resek kau And!" Rusdy melempar puntung rokok terakhirnya. Sejurus kemudian dia bejalan menuju warung di seberang jalan untuk membeli sebungkus yang baru. Batang- batang yang menurut sebagian orang penuh racun itu kini menjadi sahabat terbaiknya uintuk menunggu. Tapi setelah kembali dan ketika ingin menyalakannya dia tak kunjung mendapati korek yang biasa ada di saku celananya. Maka dengan terpaksa Rusdy kembali menyeberangi jalan untuk membeli korek. Tidak lucu kiranya jika harus berkali-kali minta api nantinya untuk menyalakan rokok.

Petugas keamanan mall yang sejak semula memang memperhatikan Rusdy semakin merasa yakin bahwa Rusdy akan membuat masalah. Gerak-geriknya dianggap mencurigakan dengan  bolak-balik menyeberangi jalan. Bisa saja dia pencuri yang mengincar mobil-mobil yang banyak terparkir di halaman mall. Atau mungkin juga - ini yangmembuat petugas itu sedikit bergidik- lelaki itu seorang teroris yang akan meluluh lantakkan mall ini.

Informasi pun segera disebar melalui HT  tentang sosok mencurigakan di pendapa utama mall. Beberapa petugas keamanan secara terpadu mulai mengamati target.

Petugas keamanan mall dengan berpakaian preman menghampiri Rusdy kemudian berpura-pura meminta pai untuk menyalakan rokok.

"Bagaimana?" tanya petugas berseragan kepada petugas berpakaian preman sesaat setelah dia kembali.

"Gawat!" petugas berpakaian preman menjawab dengan tekanan. "Mungkin dia salah satu teroris yang dicari polisi."

"Saat saya dekati tadi ternyata dia berjenggot. Dan ketika saya mengucapkan terima kasih atas apinya dia tidak menjawab sama sekali dan cuma menganguk kemudian melihat jam dengan gelisah."

"Mungkin saja dia diam untuk menyembunyikan logat bahasanya."

"Kalau begitu bagaimana jika kita segera laporkan ke polisi," usul petugas berseragam yang pertama kali mencurigai keberadaan Rusdy.

"Jangan !" bantah petugas berpakaian preman.

"Apa kamu tidak ingin naik pangkat atau status? Kamu kan statusnya masih petugas outsourcing. Jika kita bisa menangkap teroris itu karir kita berdua bakal melesat. Aku mungkin akan diangkat jadi komandan, lalu kamu akan naik statusnya menjadi petugas keamanan tetap.

"Tapi bagaimana cara manangkapnya. Bagaimana kalau orang itu punya bom atau pistol di tubuhnya. Sedang kita cuma punya pentungan?" Perasaan ragu dan takut bercampur aduk di dada petugas berseragam yang tampak masih sangat muda itu.

"Ah itu bisa disiasati. Nanti aku akan kembali ke sana dan mengajaknya gobrol. Tugas kamu adalah memukulnya dari belakang sampai dia pingsan lalu kita borgol."

"Apa itu tidak terlalu sadis?" protes petugas berseragam.

"Apa nasibmu tidak sadis jika sampai tua cuma berstatus petugas outsourcing? Ini kesempatan kita!"

Petugas berseragam yang tampak masih minim pengalaman itu tak mampu menjawab. Dia pun akhirnya sepakat untuk melaksanakan rencana seniornya tersebut.


**********

Di ruangan yang di salah satu dindingnya dipadati oleh foto-foto bergambarkan para pelaku tindak kejahatan yang berhasil diringkus Rusdy membuka matanya. kepalanya masih berat. Pundaknya masih terasa sakit. Dia tidak sepenuhnya mengerti apa yang terjadi. Yang dia ingat, dia tengah asyik ngobrol dengan seorang pria paruh baya ketika tiba-tiba pundaknya terasa dihantam oleh benda tumpul dengan sengat keras. Setelah itu dia tidak ingat apa-apa lagi.

Kini dengan pandangan yang masih goyang samar tampak perempuan cantik berdiri di hadapan dirinya yang masih tergolek lemas di sofa. Melalui matanya yang teduh perempuan itu menatap Rusdy. Sejenak kemudian sosok yang bagai morfin yang mampu meredam rasa sakit di sekujur tubuhnya itu tersenyum memamerkan giginya. Manis sekali dalam pandangan Rusdy.

Namun tiba-tiba saja perempuan itu berubah gelisah. Dia seperti ingin mengutarakan sesuatu. Ini tampak dari mulutnya yang sesaat terbuka lalu dikatupkannya kembali.

Rusdy menatap perempuan itu lekat-lekat seolah memaksa mahluk manis itu untuk mengeluarkan  apa saja  yang ingin dia katakan.

Perempuan itupun seperti menemukan kembali keberaniannya. Lalu dengan berhati-hati perempuan itu berujar.

"Saya ingin minta maaf atas tindakan pacar saya yang telah menduga kamu seorang teroris dan menjadikan kamu seperti ini."

Rusdy terkejut. Namun tiba-tiba pintu ruangan terdorong dan membuka lebih lebar dan Andripun muncul dari baliknya sambil tersenyum lebar lalu dengan enteng dia berujar.

"Ini perempuan yang mau gua kenalkan ke elu !"

Rusdy kembali pingsan dengan sempurna.


M Dadan Suryana






22 komentar:

Noor's blog (inside of me) mengatakan...

Kasihan banget tuh Rusdy..mau kenalan sama cewe malah babak belur...

Sang Cerpenis bercerita mengatakan...

duh, malang banget si rusdy. sigh...

Munir Ardi mengatakan...

saya tidak mau jadi seperti itu makanya sebelum berkenalan ama cewek berguru dulu ama si pitung, jaka sembung dan sejenisnya

jonli rahmad koto mengatakan...

wah...ada temen yg suka bikin cerpen nih...
boleh donk di ajari..

Munir Ardi mengatakan...

berkunjung lagi sobat bikin buku tamu dong

Rumah Ide dan Cerita mengatakan...

To Munir Ardi :Gimana caranya Gaptek banget nih !

ROSMANA APOLLA PUTERA mengatakan...

Waduh... Waktu saya baca judulnya, Saya kira cerpen tentang teroris beneran...

Ibnu Mas'ud mengatakan...

sama kayak ROSMANA APOLLA PUTERA, kirain masalah Noordin M Top Lagi ....

Ehhhh ternyata ....

tabib muda mengatakan...

hahaha, memang wanita cantik bisa membuat lelaki pingsan...!
"pingsan dengan sempurna" ^_^

isti mengatakan...

ini kisah nyata bukan? hehe..

attayaya berwisata riau mengatakan...

wahhh untung aku ga ikutan pingsan

Reza Ahmad Zamroni mengatakan...

Katanya hidup adalah pilihan. Tapi kadang kita diahadapkan pada satu situasi dimana kita tidak bisa memilih. Keep posting bro....

buwel mengatakan...

rusdy rusdy...

a-chen mengatakan...

nice cerpen, bikin penasarannya itu lho... :-)

Kang Sugeng (mantan copet) mengatakan...

bagus banget cerpennya, btw udah saya follow balik Pren.....

Meidy mengatakan...

suatu saat kayanya bs bikin buku nih.. btw, follow me juga ya.. :)

Arman mengatakan...

helo... thanks for visiting my blog! :)

attayaya mengatakan...

silahkan mencicipi award

Lolly mengatakan...

ya alah malangnya...
pingsan dengan sempurna pula.. emang ada pingsan yg kurang sempurna :D

Sang Cerpenis bercerita mengatakan...

nanti sore ada award untukmu ya.

obat vimax mengatakan...

thanks gan artikelnya.

obat telat bulan mengatakan...

helo... thanks for visiting my blog! :)