21 November 2009

Peristiwa di tepi sungai


Lihat, dia sudah keluar dari rumah, ayo lekas ikuti, bisik hatiku. Jangan! Tunggulah barang sebentar, biar jaraknya sedikit jauh. Bisa-bisa kamu kepergok nanti, bantah suara hatiku yang lain.

Sudah hapal aku kebiasaan perempuan yang satu ini. Kalau perempuan desa yang lain berangkat untuk mandi atau mencuci ke sungai di pagi hari. Namun perempuan ini justru baru memulai kegiatan tersebut di siang hari. Di kala sungai sudah sepi.

Tapi perbedaan sebenarnya bukanlah terletak di situ. Perbedaannya adalah jika para perempuan desa lain mandi  dengan masih mengenakan kain melilit tubuh mereka, sedangkan perempuan ini mandi  dengan hanya mengenakan kutang dan celana dalam. Sungguh mengguncang emosiku sebagai lelaki tulen. Semua ini kuketahui secara tak sengaja beberapa waktu lalu saat aku sedang memancing di sungai.

Aku terus membuntutinya dengan jarak yang cukup aman. Langkah perempuan ini begitu ringan. Bahkan daun kering yang terinjak pun tak pecah atau rusak karenanya. Jangan - jangan dia adalah bidadari yang di turunkan dari khayangan.

Sesekali  perempuan ini menoleh ke belakang. Mungkin dia merasa diikuti. Aku mesti lebih waspada. Nanti setelah dia melewati warung kopi Mang Udin dan mulai memasuki hutan kecil di pinggir desa baru aku bisa lebih tenang. Karna ada banyak pohon tuk sembunyi.

Kalau saja perempuan ini tidak berpindah -pindah tempat mandinya, aku tentu tidak perlu serepot ini mengikuti. Tinggal kutunggu saja di jam tertentu dia mandi. Mungkin ini strateginya mencegah orang yang mengintip.

Sinar matahari yang menerobos melalui celah-celah daun di hutan kecil ini sesekali menimpa tubuhnya. Walau saat ini dia masih berpakaian lengkap. Kilatan - kilatan cahaya matahari itu membawaku pada imajinasi - imajinasi gila. Cukup ! Kamu cuma boleh mengintip, jangan lebih dari itu. Aku mengingatkan diri.

Suara gemuruh air mulai terdengar. Beberapa langkah lagi kami kan tiba di sungai. Aku masih mengatur jarak. Berjaga - jaga agar jangan sampai terlihat olehnya.

Kulihat dia mulai turun ke sungai. Meloncati beberapa batu kecil. Rupanya dia menuju batu besar itu. Mungkin ia hendak bersembunyi di baliknya. Tentu agak merepotkanku jika dia membuka baju di balik batu itu dan langsung terjun ke sungai, bisa buyar sudah hiburanku hari ini.

Tapi tidak ! Dia tidak menuju batu besar itu.  Dia tidak melanjutkan langkahnya dan cuma berdiri di batu kecil. Kalau dia membukanya di sini oh betapa terang benderangnya. Sungguh anugerah terbesar bagi diriku.

Lihat dia mulai membuka ikatan rambutnya dan membiarkanya terurai hingga ke bahu.

Jantungku berdetak kencang.

Dari belakang tampak gerakan tangannya sedang membuka kancing bajunya satu per satu.

Ya, bajunya mulai terlepas. Oh, tapi apa itu ? kulitnya tentu tidak berwarna biru bukan ? Itu bukan kulit, itu seperti baju yang lengket ke badan.

Dan kini dia mulai membuka kain yang melilit bagian pinggul ke bawah. Sial, apa pula ini ?  bukan kulit paha mulus yang tampak melainkan sebuah celana ketat yang panjang.

Sial benar - benar sial ! Sepertinya dia memakai baju untuk menyelam. Ya, itukan baju untuk menyelam.  Memangnya mau menyelam dimana dia ? sial............

Tiba- tiba terdengar suara gemuruh tawa. Dan muncullah tubuh-tubuh dari balik bebatuan, bahkan pohon di belakangku. Semuanya perempuan.

Tawa itu kemudian berganti umpatan - umpatan pedas.

"Dasar muka mesum !"

"Anak kyai kok kelakuannya seperti itu," teriak yang lainnya.

"Dasar bejat !" teriak perempuan tua yang muncul dari balik pohon.

Diiringi suara makian aku lari tergopoh-gopoh menjauhi sungai. Benar - benar malu rasanya.

Nanti malam atau bahkan siang ini pula aku harus pergi dari kampung ini. Mungkin ke Jakarta.

Bukan untuk mencari kehidupan baru, tapi lari dari rasa malu.


M Dadan Suryana

 




48 komentar:

Ivan Kavalera mengatakan...

Cerpen yg sangat menarik. Aku sangat suka dg ending dan plotnya.

Munir Ardi mengatakan...

carpen yang menarik "lagi berduka"

Bahauddin Amyasi mengatakan...

Cerpen yang bagus memang mampu mengaduk-aduk emosi pembacanya. Dan cerpen di atas telah berhasil!

Salam sukses! Ijin follow bang...

Isti mengatakan...

Sempat penasaran td diawalnya,keren mas cerpennya..

reni mengatakan...

Ceritanya menarik... membuat penasaran dan endingnya mantap..!

Rumah Ide dan Cerita mengatakan...

Buat teman - teman yang sudi mampir dan memberikan komen saya ucapkan terima kasih. Tapi saya mohon maaf kalau kemungkinan saya baru bisa berkunjung balik di akhir atau awal pekan.

Ini semua dikarnakan inet di rumah saya lemot. Kadang untuk satu komen butuh waktu berjam-jam. Atau bahkan seharian tidak bisa sama sekali.( untuk baca- baca blognya sih masih bisa walau bukanya juga lambat).

Jadi tiap akhir atau awal pekan saya ke warnet tuk kunjungan balasan.
Atas pengertian dan pemaklumannya saya ucapkan terima kasih.

Rosi Atmaja mengatakan...

qeqeqeqeqeeq... habis itu lgsg kapok yah. anyway salam kenal kawan

Itik Bali mengatakan...

salam kenal ya..
bagus banget cerpennya..
sedikit membuat tersenyum, namun ceritanya mampu mengaduk-aduk emosi saya..

ratna wulandari mengatakan...

cerpennya bgus..

karakter cowok mang gitu pa ya??

untung ceweknya g seperi yg dibayang kan..ternyat pake bju penyelam bo..hehee

albertus goentoer tjahjadi mengatakan...

o..o..o... kamu ketahuan... (nyanyi lagunya MATA nih...)

Dinoe mengatakan...

Bagus benar cerpennya...alurnya ceritanya tersusun dgn rapi...

ajeng mengatakan...

Segar.. Dapat semua feelnya

-3- mengatakan...

hwehehehe....keren sob...

AISHALIFE-LINE mengatakan...

hehehehe..makanya jangan grusa-grusu.siip bro.

lina@happy family mengatakan...

Cerpennya sangat menarik, endingnya itu lho, tidak terduga sama sekali, masa gadis desa pake baju penyelam... Salut deh buat ide 'gilanya'.
Kita senasib nih. Internet sering lemot abis, nunggu chat box keluar aja sampe senewen. Tapi saya masih beruntung, suka kebagian sinyal wireless, seperti sekarang ini...

NURA mengatakan...

salam sobat
siip dan saluut banget dengan cerpennya sobat,,
iya benar tuh pergi ke Jakarta bukan untuk mencari kehidupan baru ,tapi lari dari rasa malu.
makanya jangan suka mengintip doong,,

Kang Sugng mengatakan...

hahaha... sukurin, makanya jangan suka ngintip..!

Bagus bngt Mas critanya, lucu , bermakna dan ada pelajaran juga disana

Sang Cerpenis bercerita mengatakan...

dasar cowok. hahaha.kena batunya dia.

-Gek- mengatakan...

Asik bacanya, kirain cerita misteri gituuu..

Ada siluman.. wakakkakakk!

Hei, nice story!!!
Lam kenal n follow, mampir nanti ya..;)

-Gek- mengatakan...

Satu lagiiiiii..........
Ketinggalan.

Dulu saya pake template ini, jadi nostalgia deh..

(emangnya laguuu..) xixiixix

*kabur*

Clara mengatakan...

akhirnya aku bisa kunjungan
dari kemarin blog ini nda bisa dibuka *sigh*
ceritanya bikin aku penasaran, dan lega ketika tau jawaban di akhir cerita...XD

Joddie mengatakan...

ha..ha..ha.. ketipu gue.. he.he.. btw, nice idea nih.. siip!!

lina mengatakan...

hayo ngintip..nanti bintitan loh. ceritanya lucu nih, mengecoh

attayaya mengatakan...

dasar muka mesum
ntar bintitan lho

Munir Ardi mengatakan...

wk wk wk wk baca ceerpen ini membuat saya tersenyum kembali makasih sahabat

Andie Gokil mengatakan...

baru sekali mampir nih. dan keren cerpennya!! bakalan sering mampir nih. hehe.

rahasia yang terabaikan mengatakan...

sementara aq lagi terburu-buru jadi lum bisa baca sepenuhnya.....oh ya...aq punya award untuk km.....mohon di terima yah..makasih udah mau kenalan dan mampir ke tempatq...:)

Reza Ahmad Zamroni mengatakan...

Idenya keren, eksekusinya juga keren. Mantap sob....

Financial Adviser mengatakan...

ntu cerpen atau emang bener kisah nyata...?

Lolly mengatakan...

rasa malu tetep akan mengejar meski lari kemanapun kan? :p

aaSlamDunk mengatakan...

sip dah....
menginspirasi ceritanya....

nangis aku (lebay)
gak kok biaSA AJA.. hehehe

anindyarahadi mengatakan...

pertama kali mampir... salam kenal.. saya follow ya :)

kalo aja rasa malu bisa bikin mati.. mungkin si tokoh (dan saya) udah mati dari dulu hahahaha

Yolizz mengatakan...

hahaha.. makanya jangan suka ngintiipp!! :D

nice story mas.. :)

Munir Ardi mengatakan...

berkunjung kerumah sahabat

kak_ega_punya cerita mengatakan...

cuma satu kata: bagus!!

lam kenal ya

thya mengatakan...

renyah ceritanya, bagus alurnya.. wish i could write like the way u are. suka susah cari ide :)

mampir terus yaah ^^

bisnis online mengatakan...

pengalaman pribadi ya.....

sibaho way mengatakan...

xixixixi... saya jadi ikut nahan nafas :D

cikrik mengatakan...

Maaf neh gi terburu buru, mampir ajah ya...

attayaya mengatakan...

selamat siang bang
dah mandi ke tepi sungai???

hery mustova mengatakan...

Tulisannya bagus

hery mustova mengatakan...

Balik lagi mau Foloow

berita unik mengatakan...

wedew...
si masnya genit...
kalo lagi BAB mao diintipin juga mas

Financial Adviser mengatakan...

wakakaka....
kalo cowo lagi mandi diintipin ga nih

yanuar catur rastafara mengatakan...

sante aja sob, kita untuk baca2 aja lho udah nggak apa, lemot memang kadang menjengkelkan kok
hehehe
ngmeng2, cerpen kamu keren tuh, aku ampek kebawa ke dalam..

Sari mengatakan...

Cerpennya lucu :P

bibit jabon mengatakan...

capeknya gimana yach lari dari rasa malu,,, hehe

obat telat bulan mengatakan...

thanks gan artikelnya.